Luka yang Membentukku, Mimpi yang Menuntunku
Ada hari-hari yang terasa seperti lorong panjang tanpa ujung. Aku berjalan di dalamnya sambil membawa tubuhku sendiri, seolah jiwa dan langkahku sedang bernegosiasi siapa yang akan menyerah duluan. Di hari-hari itulah aku mulai bertanya: sebenarnya, untuk apa aku masih hidup? Bukan karena aku membenci hidup. Aku hanya… terlalu sering disakiti oleh hal-hal yang dulu kuanggap rumah. Cinta yang kubayangkan akan menjadi pelindung justru menyisakan retakan halus yang perih saat disentuh. Pertemanan yang kuanggap pelabuhan berubah menjadi laut yang dingin. Keluarga—yang seharusnya jadi kulit terluar yang melindungi—kadang membuatku merasa seperti aku ini transparan, terlihat tapi tidak benar-benar dipahami. Semua itu datang dalam satu musim yang sama, seperti hujan badai yang memaksa tumbuhan kecil untuk menahan angin meski akar-akarnya belum kuat. Aku pernah lelah sampai nyaris percaya bahwa dunia tidak akan kehilangan apa-apa kalau aku berhenti. Ada malam-malam di mana aku men...