Posts

Emotional Intelligence dalam Relationship: Belajar Mengelola Emosi di Setiap Hubungan

Image
Emotional Intelligence dalam Relationship: Belajar Mengelola Emosi di Setiap Hubungan Di kehidupan sehari-hari, kita selalu berada dalam berbagai relationship—baik itu pertemanan, percintaan, keluarga, maupun lingkungan kerja. Namun sering kali, masalah dalam hubungan bukan muncul karena orang lain, melainkan karena emosi yang tidak dikelola dengan baik. Di sinilah pentingnya emotional intelligence atau kecerdasan emosional. Emotional intelligence adalah kemampuan untuk mengenali emosi diri sendiri, memahami emosi orang lain, dan mengelola respons kita terhadap situasi yang terjadi. Karena pada dasarnya, emosi itu normal. Marah, kecewa, sedih, atau kesal adalah hal manusiawi. Yang menentukan kualitas hubungan kita adalah bagaimana cara kita merespons emosi tersebut. Sering kali kita marah bukan karena situasi saat itu, tetapi karena emosi yang menumpuk sebelumnya. Misalnya, saat sedang lelah atau banyak pikiran, candaan kecil dari teman bisa terasa menyebalkan. Padahal sebe...

Pergi Sendiri, Pulang Bersama Banyak Makna

Image
Perjalanan Pertama Yang mengubah Banyak Hal. Ada perjalanan yang tidak hanya memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain, tetapi juga memindahkan cara pandang, keberanian, dan keyakinan dalam diri. Perjalanan ini adalah salah satunya. Ini adalah pertama kalinya aku pergi sendirian sejauh itu—menempuh perjalanan kurang lebih delapan jam, duduk di bangku yang sama dengan tiga orang berbeda, masing-masing membawa kisah hidupnya sendiri. Awalnya terasa biasa saja, sampai akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang kisahnya paling melekat di hati: seorang ibu luar biasa yang tanpa sadar menjadi cermin dari apa yang sedang aku jalani. Ibu itu bercerita tentang hidupnya. Tentang bagaimana ia sudah merantau sejak SMP, meninggalkan Bandung menuju Jakarta demi bekerja. Tinggal bersama omnya, menempuh dunia kerja sejak usia yang sangat muda, lalu melanjutkan sekolah malam. Ia benar-benar menapaki hidup dengan caranya sendiri. Serius bekerja setelah lulus SMA, membangun relasi, meniti...

Belajar jadi Diriku Yang Lebih sadar

Image
Hari ini aku menyoba untuk jujur dengan diriku sendiri. Bukan soal pencapaian yang besar tapi hal-hal kecil yang sering aku lewatin begitu saja. Aku sadar beberapa hari terakhir pikiranku gampang banget kacau, seperti ada banyak suara dalam kepala yang minta diperhatikan bersamaan. Padahal, kalo di pikir-pikir, yang aku butuhin cuma berhenti sebentar dan ngecek apa yang sebenarnya sedang aku rasakan. Ada satu momen yang bikin aku berhenti dahulu; Aku sering terlalu keras sama diriku sendiri. Aku sering nuntun semuanya harus cepat, harus benar, harus sempurna.Tapi pas aku Refleksi, aku sadar bahwa tekanan ini justru bikin aku mundur bukan maju. Mungkin yang aku butuhkan ini bukan ngebut, tapi Tumbuh pelan-pelan dengan sadar. Aku juga mulai memahami satu hal; kita gak pantas diperlakukan gak adil, bahkan sama diri sendiri. Kita manusia, penuh luka dan proses. Kalau kertas yang tipis saja bisa robek kalau dipaksa, gimana dengan hati yang tiap hari harus menahan macam-m...

Menyelami Kepribadian: Catatan Setelah Membaca

Image
"Teori Psikologi Kepribadian Manusia” — Nur Fatwikiningsih, S.Psi., M.Psi., Psikolog   Malam ini aku membaca ulang buku Teori Psikologi Kepribadian Manusia karya Nur Fatwikiningsih, S.Psi. Ada banyak teori dan istilah yang dijelaskan di buku itu, tapi yang paling terasa mengena bukan istilah akademiknya, melainkan cara buku itu membuatku berkaca pada diriku sendiri. Buku itu menjelaskan bahwa kepribadian seseorang tidak dibentuk dari satu kejadian besar saja, tapi dari hal-hal kecil yang kita ulang setiap hari. Dari pola pikir yang kita biasakan. Dari keputusan-keputusan sederhana yang pelan-pelan membentuk arah hidup. Saat membaca itu, aku terpikir tentang hidupku sendiri. Tentang bagaimana aku sering memilih kesempatan yang terlihat paling besar. Kadang kita melihat peluang yang tampak menjanjikan dari jauh, seperti ombak tinggi yang terkesan megah, padahal ketika didekati justru pecah begitu saja. Dan lucunya, kesempatan kecil yang awalnya aku ragu ambil malah justr...

Luka yang Membentukku, Mimpi yang Menuntunku

Image
Ada hari-hari yang terasa seperti lorong panjang tanpa ujung. Aku berjalan di dalamnya sambil membawa tubuhku sendiri, seolah jiwa dan langkahku sedang bernegosiasi siapa yang akan menyerah duluan. Di hari-hari itulah aku mulai bertanya: sebenarnya, untuk apa aku masih hidup?     Bukan karena aku membenci hidup. Aku hanya… terlalu sering disakiti oleh hal-hal yang dulu kuanggap rumah. Cinta yang kubayangkan akan menjadi pelindung justru menyisakan retakan halus yang perih saat disentuh. Pertemanan yang kuanggap pelabuhan berubah menjadi laut yang dingin. Keluarga—yang seharusnya jadi kulit terluar yang melindungi—kadang membuatku merasa seperti aku ini transparan, terlihat tapi tidak benar-benar dipahami. Semua itu datang dalam satu musim yang sama, seperti hujan badai yang memaksa tumbuhan kecil untuk menahan angin meski akar-akarnya belum kuat. Aku pernah lelah sampai nyaris percaya bahwa dunia tidak akan kehilangan apa-apa kalau aku berhenti. Ada malam-malam di mana aku men...

Malam yang Mengajari Aku Artinya Tetap Hadir

Kisah Sehari-hari yang Menamparku Tentang Makna Tanggung Jawab Kadang, hidup punya cara unik untuk menguji kita. Tidak selalu lewat momen-momen besar, tapi justru lewat kejadian sederhana yang datang bersamaan, tanpa permisi. Itulah yang terjadi padaku pada suatu malam ketika aku sedang mengikuti sesi Leader Group Discussion dari sebuah ajang Duta yang aku ikuti.  Awalnya, aku sudah siap dengan waktu yang ditentukan. Tapi karena jadwal diundur, aku masih santai—nggak buru-buru, nggak tegang, semuanya aman. Sambil menunggu, aku tetap berjaga di depot milik ayahku. Papa dan Mama sedang keluar, jadi malam itu cuma aku yang pegang. Dan seperti biasanya, aku pikir semuanya bakal berjalan sederhana. Tapi hidup suka bercanda. Begitu ruang Zoom akhirnya dibuka, seorang pembeli tiba-tiba datang dan aku harus cepat-cepat mengisi galon. Siapa pun yang pernah refill galon pasti paham: prosesnya lama, harus fokus, dan nggak bisa ditinggal begitu saja. Sementara itu, diskusi sudah dimulai, dan a...

Ketika Mimpi Ku, Berawal Dari: Suara Yang Tak Pernah Didengarkan

Suara. Itu hal yang dulu tidak pernah aku miliki, tapi kini menjadi sumber mimpi terbesarku. Hai haii haiii! Halo semua alandisiniii.. Itulah ciri khas ku ketika bersuara di podcast monolog ku bernama "Talks Anything." Hai perkenalkan, namaku Jilan Siti Rofifah. Aku lahir dan tumbuh kembang di Kota Kuda, yaitu Kuningan, Jawa Barat. Aku lahir dari keluarga yang cukup sederhana, dan sejak kecil sudah diperkenalkan pada dunia seni. Aku sering mengikuti lomba pupuh, nyanyi solo, pildacil putri, FLS2N. Aku pernah menjuarai lomba pupuh tingkat kecamatan dan lanjut ke kabupaten. Selain itu aku juga mendapatkan nilai terbaik di kelas, hingga akhirnya bisa bersekolah di SMP favorit. Namun perjalanan di SMP tidak seindah yang aku bayangkan. Bakatku seolah terkubur, aku tidak menonjol lagi dan perlahan mulai merasa diriku tidak berguna. Aku dianggap pasif, padahal dulu aku berprestasi. Rasa sedih dan kecewa sempat memenuhi kepalaku, tapi semua itu justru menjadi awal munculnya ide bagik...