Ketika Mimpi Ku, Berawal Dari: Suara Yang Tak Pernah Didengarkan

Suara. Itu hal yang dulu tidak pernah aku miliki, tapi kini menjadi sumber mimpi terbesarku.

Hai haii haiii! Halo semua alandisiniii.. Itulah ciri khas ku ketika bersuara di podcast monolog ku bernama "Talks Anything."

Hai perkenalkan, namaku Jilan Siti Rofifah. Aku lahir dan tumbuh kembang di Kota Kuda, yaitu Kuningan, Jawa Barat. Aku lahir dari keluarga yang cukup sederhana, dan sejak kecil sudah diperkenalkan pada dunia seni. Aku sering mengikuti lomba pupuh, nyanyi solo, pildacil putri, FLS2N. Aku pernah menjuarai lomba pupuh tingkat kecamatan dan lanjut ke kabupaten. Selain itu aku juga mendapatkan nilai terbaik di kelas, hingga akhirnya bisa bersekolah di SMP favorit.

Namun perjalanan di SMP tidak seindah yang aku bayangkan. Bakatku seolah terkubur, aku tidak menonjol lagi dan perlahan mulai merasa diriku tidak berguna. Aku dianggap pasif, padahal dulu aku berprestasi. Rasa sedih dan kecewa sempat memenuhi kepalaku, tapi semua itu justru menjadi awal munculnya ide bagiku. Aku mulai membangun personal branding di media sosial, bernama alandrasa, sambil terus belajar berbicara lewat dunia digital. Di saat yang sama aku juga aktif di OSIS.

Aku mulai bangkit perlahan. Hinaan, cemoohan, dan rasa tidak dihargai itu hanya cerita sementara dalam hidupku. Tahun 2022 adalah titik awal aku membangun podcast monolog Talks Anything, tempat di mana suaraku didengarkan. Selain itu aku juga mulai berjualan stiker milik kakak teman, aku hanya mengambil keuntungan kecil—karena sejak kecil aku memang menyukai dunia marketing. Hidup itu seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Kadang kita merasa berhasil, lalu tiba-tiba jatuh lagi.

Bullying sempat membuat langkahku berat, tapi aku tidak berhenti. Masuk SMA, aku semakin aktif, kreatif, dan inovatif. Aku mendapatkan banyak pengalaman baru: teman, lingkungan, fasilitas, dan yang terpenting—dukungan baru. Namun ada juga hal yang membuatku harus berpindah sekolah beberapa kali. Aku tidak tahu mana tempat yang paling pas untuk diriku berkembang. Aku ingin berada di ruang yang membuatku merasa dihargai, aman, dan punya kesempatan untuk tumbuh.

Akhirnya kini aku berada di kelas 12 SMA, dan aku memilih bersekolah secara non-formal. Bukan karena menyerah, tapi karena aku peduli pada diriku dan mimpiku. Aku tidak mau bully di masa lalu menghentikan langkahku. Aku merangkai mimpi sendirian, dengan dukungan keluarga dan orang terdekat.

Pelan-pelan aku mulai ikut lomba bernyanyi lagi, kompetisi, webinar, dan event-event di kotaku. Tujuannya untuk mengasah skill, membangun branding, memperluas relasi, dan tentu saja menyiapkan investasi untuk 10 tahun ke depan. Aku sempat gagal dalam ajang bernyanyi, tapi aku tetap bersuara lewat jalan lain. Dari Talks Anything, aku membangun ruang baru bernama SpeakMinded.id, tempat orang-orang bercerita, meminta pendapat, membangun pola pikir positif, bahkan mulai berani bermimpi. Karena aku percaya bahwa mimpi harus diikuti aksi—walaupun masih kecil, tetapi setiap langkah kecil jika konsisten bisa membawa perubahan besar.

Saat ini juga aku mulai merangkai sebuah project yaitu Drative, rumah kreatif bagi anak-anak muda yang punya mimpi di dunia digital. Tempat bagi mereka yang ingin berkarya, belajar, berkembang, dan menunjukkan pada dunia bahwa ide kecil pun bisa jadi besar jika punya ruang untuk tumbuh. 


10 Tahun Yang Akan Datang

Aku punya lebih dari seribu mimpi, yang belum terlengkapi. Tapi Inilah gambaran Diriku di 10 tahun ke depan:

Aku membayangkan diriku berdiri di sebuah kantor sederhana tapi penuh energi kreatif, Ada Talks Anything sebagai studio podcast, SpeakMinded sebagai ruang digital bagi mereka yang ingin bersuara, dan Drative sebagai tempat anak-anak muda berkembang bersama. Di sana ada tim konten, tim desain, tim editorial, tim kreatif—bukan hanya bekerja demi penghasilan, tapi demi perubahan.

Di dindingnya tergantung poster-poster ide besar yang lahir dari anak muda berbakat. Yang dulunya suaranya tak pernah didengarkan, tak diberi peluang untuk bersuara. Aku bisa melihat diriku memimpin workshop menulis, podcasting, marketing digital, public speaking, dan kelas tentang cara membangun personal branding yang kuat. Aku ingin diundang ke acara-acara besar dan menjadi pembicara bagi anak muda Indonesia, membantu mereka menemukan suara mereka—entah lewat tulisan, audio, video, atau karya digital lainnya. karena aku yakin: 
"Jika kita tidak didengarkan, maka kita harus mendirikan panggung kita sendiri."


Telkom University

Dalam perjalanan itu, aku melihat Telkom University sebagai kampus yang cocok dengan arah mimpiku. Telkom bukan hanya soal mata kuliah, tapi soal ekosistem yang mendorong inovasi, kreativitas, dan perkembangan industri digital. Telkom punya fokus kuat pada teknologi informasi, bisnis, ekonomi kreatif, startup digital, dan industri media modern—persis bidang yang ingin aku tekuni.

Di sana aku ingin belajar lebih dalam tentang:

• data dan teknologi,
• bisnis kreatif dan digital,
• pemasaran modern,
• manajemen produk,
• pengembangan media digital.

Ilmu itu ingin aku bawa pulang untuk mengembangkan Talks Anything, SpeakMinded, dan Drative agar lebih matang, profesional, dan berdampak. Aku ingin berada di lingkungan yang mendukung ide besar, memberi ruang eksplorasi, serta mendorong anak muda untuk membangun karya nyata. Dengan kuliah di Telkom, aku ingin memperluas panggungku—bukan hanya agar aku bisa bicara lebih lantang, tapi agar semakin banyak orang bisa ikut bersuara.



Pada akhirnya, aku belajar bahwa suara bukan hanya soal seberapa lantang kita berbicara, tapi seberapa besar dampak yang lahir dari setiap kata, karya, dan langkah kecil yang kita jalani. Aku tidak tahu seberapa jauh aku akan melangkah nanti, tapi aku tahu satu hal:

Aku tidak akan berhenti bersuara, dan aku tidak akan berhenti membuka ruang bagi orang lain untuk ikut didengar.


Comments

Popular posts from this blog

🌸 Even the shyest voice can inspire others — if it dares to speak.

🧩 Jurnal Reflektif : Kenapa Orang Cerdas Bisa Salah Ucap ?

@alan.ndrsaa