Luka yang Membentukku, Mimpi yang Menuntunku
Ada hari-hari yang terasa seperti lorong panjang tanpa ujung.
Aku berjalan di dalamnya sambil membawa tubuhku sendiri, seolah jiwa dan langkahku sedang bernegosiasi siapa yang akan menyerah duluan.
Di hari-hari itulah aku mulai bertanya: sebenarnya, untuk apa aku masih hidup?
Bukan karena aku membenci hidup.
Aku hanya… terlalu sering disakiti oleh hal-hal yang dulu kuanggap rumah.
Cinta yang kubayangkan akan menjadi pelindung justru menyisakan retakan halus yang perih saat disentuh.
Pertemanan yang kuanggap pelabuhan berubah menjadi laut yang dingin.
Keluarga—yang seharusnya jadi kulit terluar yang melindungi—kadang membuatku merasa seperti aku ini transparan, terlihat tapi tidak benar-benar dipahami.
Semua itu datang dalam satu musim yang sama,
seperti hujan badai yang memaksa tumbuhan kecil untuk menahan angin meski akar-akarnya belum kuat.
Aku pernah lelah sampai nyaris percaya bahwa dunia tidak akan kehilangan apa-apa kalau aku berhenti.
Ada malam-malam di mana aku menatap langit kosong, berharap bintang bisa menjawab pertanyaanku:
“Kalau aku hilang hari ini… ada yang sadar?”
Tapi sebelum kegelapan itu menelan sepenuhnya, ada bara kecil yang menolak padam.
Bara itu bukan keberanian, bukan ketabahan.
Bara itu mimpi.
Mimpi yang lahir bukan dari ambisi besar,
tapi dari luka-luka yang dalamnya seperti sumur—menggemakan suara yang tidak pernah kudengar dari luar:
"Kamu harus terus hidup. Kamu harus sampai pada sesuatu."
Aku ingin membangun ruang.
Ruang yang tidak menusuk siapa pun seperti dunia pernah menusukku.
Ruang yang hangat seperti cahaya matahari pertama setelah badai yang semalaman menguji atap rumah.
Ruang tempat seseorang bisa datang dengan hati yang patah, dan berkata,
“Akhirnya ada tempat yang tidak menghakimi rasa sakitku.”
Karena aku tahu rasanya menjadi seseorang yang berjalan sambil menahan air mata,
yang menyusun dirinya sambil takut pecah,
yang masih bertahan meski hatinya rasanya seperti kaca buram yang belum sempat dibersihkan.
Ada masa-masa ketika kebahagiaan hanya mampir,
seperti kupu-kupu yang hinggap sebentar lalu terbang pergi sebelum sempat kupegang.
Ada hari-hari ketika aku merasa belum pernah merasakan bahagia sepenuhnya—bukan yang setengah, bukan yang patah di tengah.
Tapi aku belajar bahwa bahagia tidak harus menetap.
Bahagia kadang hanya ingin disapa, bukan dimiliki.
Dan itu tidak apa-apa.
Sampai suatu hari aku mendengar lagu Kata dari Rizky Febian,
dan ada satu bagian yang rasanya menyentuh bagian diriku yang paling rapuh:
“Tuhan tak pernah keliru memberikan anugerah cinta pada hamba-Nya."
Kalimat itu seperti angin yang masuk melalui jendela yang hampir kubiarkan tertutup selamanya.
Mengajarkanku bahwa cinta bukan selalu hadir dalam bentuk seseorang yang memelukmu,
kadang ia hadir sebagai kemampuan untuk memeluk dirimu sendiri,
meski tanganmu gemetar.
Luka-lukaku mulai terasa berbeda.
Tidak lagi seperti belati,
tapi seperti goresan yang membentuk peta—membimbingku ke arah yang selama ini tidak pernah kulihat.
Aku mulai percaya bahwa aku tidak rusak.
Aku tidak gagal.
Aku hanya manusia yang pernah jatuh terlalu keras,
dan sekarang sedang belajar bangkit dengan cara yang lebih lembut.
Setiap kali dunia kembali terasa berat,
aku bicara pelan pada diriku sendiri:
“Kamu nggak boleh mati sebelum mimpimu hidup.”
Dan anehnya, kalimat itu cukup untuk membuatku terus melangkah,
meski jalannya terjal, meski malamnya panjang.
Aku mungkin belum sampai.
Tapi aku tahu aku lagi menuju ke sana—ke ruang yang dulu sangat kubutuhkan,
yang suatu hari akan kuberikan kepada orang lain.
Ke versi hidup yang tidak terburu-buru.
Ke cinta yang tidak melukai.
Dan mungkin…
mungkin Tuhan memang tidak pernah keliru.
Bahkan saat aku merasa seluruh hidupku salah arah.
Kini aku menulis semua ini bukan untuk orang lain,
tapi untuk mengingatkan diri sendiri:
Luka-luka itu membentukku.
Mimpiku menuntunku.
Dan aku masih hidup… bukan kebetulan.
Comments
Post a Comment