Pergi Sendiri, Pulang Bersama Banyak Makna
Perjalanan Pertama Yang mengubah Banyak Hal.
Ada perjalanan yang tidak hanya memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain, tetapi juga memindahkan cara pandang, keberanian, dan keyakinan dalam diri. Perjalanan ini adalah salah satunya.
Ini adalah pertama kalinya aku pergi sendirian sejauh itu—menempuh perjalanan kurang lebih delapan jam, duduk di bangku yang sama dengan tiga orang berbeda, masing-masing membawa kisah hidupnya sendiri. Awalnya terasa biasa saja, sampai akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang kisahnya paling melekat di hati: seorang ibu luar biasa yang tanpa sadar menjadi cermin dari apa yang sedang aku jalani.
Ibu itu bercerita tentang hidupnya. Tentang bagaimana ia sudah merantau sejak SMP, meninggalkan Bandung menuju Jakarta demi bekerja. Tinggal bersama omnya, menempuh dunia kerja sejak usia yang sangat muda, lalu melanjutkan sekolah malam. Ia benar-benar menapaki hidup dengan caranya sendiri. Serius bekerja setelah lulus SMA, membangun relasi, meniti karier kantoran dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya kini menjadi guru bimbel di lembaga yang cukup dikenal di Indonesia.
Yang paling mengena bagiku bukan hanya tentang kesuksesannya, tapi tentang cara ia memaknai mimpi. Ia berkata bahwa tidak semua mimpi awal akan terwujud persis seperti yang kita bayangkan, dan itu tidak apa-apa. Kadang hidup memaksa kita mengganti bentuk mimpi, namun selama tujuannya sama—untuk bertumbuh dan bertahan—maka kita tidak benar-benar tersesat.
Aku merasa dekat dengan ceritanya. Dengan latar belakangku sebagai anak kejar paket, yang harus berhadapan dengan pembulian dan berbagai alasan hidup yang tidak selalu ramah, kisah ibu itu terasa seperti pelukan hangat di tengah perjalanan panjang.
Perjalananku berlanjut ke Depok. Aku menginap di rumah sepupu dengan tujuan mengikuti Leader Camp yang diadakan oleh Duta Inspirasi Indonesia. Rencana awalnya, kegiatan akan dilaksanakan di kawasan TNI di Depok. Namun H-1, lokasi dipindahkan ke Bogor—tepatnya di Yon Bekang Bogor. Artinya, aku harus berangkat lebih pagi dari Depok menuju Bogor.
Dua hari satu malam di sana menjadi pengalaman yang tidak akan aku lupakan. Kami diajarkan disiplin, kemandirian, dan keberanian. Makan tanpa gadget—sesuatu yang terlihat sepele, tapi ternyata cukup menantang bagiku yang terbiasa makan sambil menatap layar. Satu hari penuh tanpa HP terasa seperti kembali benar-benar hadir sebagai manusia.
Aku bertemu teman-teman dari Sabang sampai Merauke. Rasanya hangat sekali berada di ruang yang penuh cerita, tawa, dan mimpi dari berbagai penjuru Indonesia.
Ada juga sesi outbound yang menantang traumaku terhadap ketinggian. Awalnya takut, tapi aku mencoba. Dan saat aku berhasil, aku tahu: keberanian itu bisa dilatih. Trauma tidak selalu untuk dihindari, kadang ia hanya menunggu untuk dihadapi perlahan.
Salah satu momen paling berkesan terjadi saat makan malam. Aku tiba-tiba kambuh asam lambung. Aturannya ketat—makan harus cepat dalam waktu sekitar 20 detik. Aku meminta izin untuk terlambat makan dan menjelaskan kondisiku. Namun akhirnya aku tetap mencoba makan tepat waktu.
Seorang TNI berkata padaku, “Buktinya kamu bisa. Tadi kamu takut duluan karena lambungmu.”
Kalimat itu sederhana, tapi menampar lembut. Banyak hal dalam hidup yang kita takuti bahkan sebelum mencobanya.
Di tengah kondisi tubuh yang kurang baik, ada satu sosok yang membuatku sangat bersyukur: Maria. Temanku ini begitu peduli. Ia menyiapkan berbagai jenis obat, dan bahkan rela berjalan jauh dari masjid ke area camp hanya untuk memberiku obat. Lalu kembali lagi ke masjid. Tanpa mengeluh. Tanpa drama.
Terima kasih, Maria. Semoga kebaikanmu selalu menemukan jalan pulang.
Aku juga sangat-sangat senang bertemu dengan para alumni Duta Inspirasi Indonesia, aku juga bertemu dengan alumni fasil dan juga alumni program go Duta inspirasi Library, dan aku sangat sangat terharu dan juga merupakan suatu hal yang tak terduga aku bertemu dengan "Galuh" nya delegasi Kalimantan Selatan, yang sekarang menjadi provinsi delegasiku aku bertemu orang yang benar-benar dari sana, Aku pengen tahu banyak hal tentang Kalimantan Selatan dan Alhamdulillah aku bertemu dengan kak Melinda aku dapat pengetahuan banyak dari Kak Melinda, dengan latar pendidikan yang hampir sama dengan diriku saat ini, aku melihat dan aku bertanya pada diriku sendiri apakah diriku di masa depan bisa seperti Kak Melinda
Aku juga ngobrol sama mace, sama Bunda Lidya mereka orang-orang hebat orang-orang Keren aku juga ngobrol sama Kak Syahri. Pokoknya aku dapat insight baru, pandangan baru yang akan terus selalu aku ingat. Aku tak menyangka bisa bertemu orang-orang hebat, semuanya hebat. Punya nilainya masing-masing, brandingannya pun keren-keren.
Aku jadi tahu makna dari Bhineka tunggal Ika sebenarnya. Berbeda-beda tetapi tetap satu walau dengan latar belakang tempat dan kebudayaan yang berbeda kita bisa merangkul satu sama lain. Mereka semua sosok yang begitu hangat dan menguatkan.
Setelah camp selesai, aku pulang dengan pengalaman baru lainnya: naik KRL untuk pertama kalinya. Dengan kartu yang diberikan ipar sepupuku, aku menjajal perjalanan yang terasa sangat baru. Sedikit canggung, sedikit kampungan mungkin—tapi seru. Sangat seru.
Sesampainya di Jakarta, hal tak terduga kembali terjadi. Niat awalku hanya mengunjungi tempat tinggal temanku. Namun aku memberanikan diri melamar pekerjaan. Aku mengirim CV malam hari, dan keesokan harinya langsung dipanggil interview. Offline. Di Jakarta. Untuk pertama kalinya.
Aku memutuskan tinggal di rumah tante dan om. Interview itu menantang, mendebarkan, tapi juga membanggakan. Aku berdiri di sana, membawa seluruh perjalanan, luka, mimpi yang berubah bentuk, dan keberanian yang baru aku kenal akhir-akhir ini.
Anw Aku mau berterima kasih kepada om dan tanteku, Aku juga mau berterima kasih kepada sepupu-sepupuku yang sangat baik hati dengan berbagai macam karakter dari mereka ada yang cuek banget tapi peduli ada yang kocak agak cuek Tapi diam-diam peduli juga. Terima kasih sudah selalu mengantar jemputku, love you all 🩷.
Setelah interview itu, kejutan lain kembali datang. Aku dihubungi lewat DM oleh salah satu temanku sesama Duta Inspirasi Indonesia, Bang Bintang. Dengan caranya yang hangat dan tulus, ia mengajakku ikut sebuah aksi. Awalnya aku sempat berpikir, “aksi apa ya?”—dalam bayanganku sempat terpikir aksi demo. Tapi ternyata bukan itu.
Aksi yang dimaksud adalah aksi berbagi kebahagiaan. Kami mendatangi sebuah rumah singgah pendidikan yang dulu dikenal dengan nama Bilik Pintar, dan kini bernama YOI School. Di sana, aku bertemu dengan anak-anak luar biasa—anak-anak dengan mimpi besar, semangat belajar yang tinggi, namun harus berjuang dengan keterbatasan ekonomi dan fasilitas.
Berada di sana membuat hatiku penuh. Rasanya seperti diingatkan kembali bahwa mimpi tidak pernah salah alamat; ia hanya terkadang tertunda oleh keadaan. Terima kasih, Bang Bintang, sudah membukakan pintu pengalaman yang begitu bermakna ini.
Di momen itu pula, aku bertemu dengan sosok-sosok hebat lainnya. Ada Martin, yang kehadirannya juga memberi kesan mendalam. Aku juga berkesempatan bertemu para alumni Duta Inspirasi Indonesia, termasuk alumni angkatan Batch 18. Bertemu mereka seperti melihat potret masa depan—bahwa proses yang sedang dijalani hari ini benar-benar bisa bertumbuh menjadi sesuatu yang berdampak. Aku juga bertemu Wa ode yang waktu itu interview aku di Duta Inspirasi Indonesia akhirnya, kita bisa bertemu secara langsung. Dia humble banget, love you Reina. 🩷🩷🩷
Love you all, sayang kalian semua. Terima kasih untuk semuanya, terima kasih untuk fotographer kita semua. Terima kasih untuk kakak-kakak yang sudah merangkai acara ini. Terima kasih pokoknya untuk semuanya.
Ada satu momen yang aku ingat banget sampai sekarang ada satu anak yang cukup dekat sekali dengan aku namanya Cio, entah kenapa padahal kita baru satu hari bertemu tapi Cio suka minta gendong sama Galuh sama aku, dan ada satu momen di mana Aku lupa namanya dia siapa aku kan bawa dua buku dan satu buku itu ada gambar-gambarnya, ada juga warnanya yang sangat colorful. Aku tuh pengen masukin buku itu ke tas karena memang sudah tidak ada yang menggunakannya lagi cuman anak ini tuh ingin sekali melihatnya membacanya walau dia belum bisa baca, aku di situ terharu karena aku sempat jahilin dia aku ambil bukunya dan dia nggak mau bukunya diambil, dia ingin tetap memandangi buku tersebut. Hal seperti itu sederhana, tapi membuat hatiku tersentuh, di era sekarang yang serba digital ini, dengan isu kurangnya literasi di kalangan anak-anak. Tapi ada juga anak yang begitu excited dan kepengen tahu itu, dan dia anaknya sangat sangat ceria. Aku sangat hati karena kayak "oh ternyata masih ada ya anak yang saya excited ini untuk melihat buku"
Ada satu hal yang aku ingat, Dia mungkin sudah SMP atau entah masih kelas 6. Dia punya mimpi untuk menjadi pemain bola atau futsal yang waktu itu, dan ternyata dia sudah mencoba dia sudah berjalan untuk mimpinya itu, Pas aku tanya. Dia udah mendapatkan kejuaraan, dan dia punya planning untuk menjadi pemain bola Medan. Aku tanya "Kenapa kamu tidak membawa nama Jakarta, kamu kan tinggal di Jakarta."
Dan dia bilang "enggak kak hehe, karena aku lahir di Medan."
Dari situ aku berpikir, ternyata mimpi tidak selalu soal seberapa jauh kita pergi, tapi seberapa jujur kita pada akar diri sendiri. Anak itu mengajarkanku bahwa identitas bukan sesuatu yang harus ditinggalkan demi terlihat besar, justru sesuatu yang ingin dibawa pulang dengan bangga. Bahwa meski ia tumbuh di Jakarta, hatinya tetap memilih Medan sebagai nama yang ingin ia perjuangkan. Aku melihat diriku di sana. Sama-sama berjalan jauh dari titik awal, sama-sama tumbuh di tempat yang mungkin tidak pernah kita rencanakan, tapi tetap membawa cerita asal sebagai bagian dari mimpi. Dari anak itu aku belajar, bahwa tidak apa-apa bermimpi sambil merantau, tidak apa-apa berubah arah, selama kita tidak lupa dari mana kita berangkat. Dan mungkin, itulah arti perjalanan yang sesungguhnya: bukan tentang menjadi siapa di tempat orang lain, tapi tentang tetap menjadi diri sendiri, di mana pun kita berdiri.
Di akhir Desember ini, aku belajar satu hal penting: perjalanan yang tidak terduga sering kali membawa kita pada versi diri yang lebih berani dari yang kita bayangkan.
Pada akhirnya, aku sadar perjalanan ini tidak hanya tentang jarak yang kutempuh atau tempat-tempat yang kudatangi. Perjalanan ini tentang manusia—tentang ibu di bangku perjalanan, tentang teman-teman di camp, tentang anak-anak dengan mimpi besar, tentang tangan-tangan baik yang datang tanpa diminta.
Aku berangkat sendirian, tapi aku pulang dengan banyak nama, banyak cerita, dan banyak doa yang saling berkelindan.
Ini bukan hanya kisah tentang aku yang berani berangkat. Ini adalah kisah tentang kita—yang saling menguatkan, meski hanya bertemu sebentar di satu persimpangan hidup.
Dan jika suatu hari aku ragu lagi, aku ingin mengingat perjalanan ini: bahwa aku tidak pernah benar-benar sendiri.
Wislist ku dari dulu pengen banget ke Gramedia, akhirnya keinginan itu tercapai di bulan Desember ini di tahun 2025, next time kalau punya banyak uang aku ingin membeli banyak sekali buku untuk diriku sendiri dan juga untuk dibalikkan ke orang-orang terutama anak-anak muda Indonesia.
Ya makanya itu aku kerja mulai mencari-cari kerja dari sekarang walau notabene nya aku masih SMA dan harusnya fokus untuk PTN ku, tapi aku ingin mempersiapkan itu secara matang untuk dunia kerja, tapi aku juga tetap berusaha konsisten belajar untuk aku dapat berada di PTN yang aku mau, ga harus yang aku mau yang terpenting aku di sana bisa berkembang. Tujuanku menjadi orang yang punya banyak uang adalah untuk bisa provide orang di sekitarku. Terutama mama papaku. Aku ingin membahagiakan mereka mereka yang telah membahagiakan diriku.
Terima kasih telah membaca sampai bait terakhir, Salam hangat.
Alandrasa, Galuh D19.
Comments
Post a Comment