Saat Semesta menahan Jatuh Ku: Pelajaran Mencintai Diri Sendiri

Ini bukan tentang siapapun, ini tentang jatuh dan rumah yang sesungguhnya
 


Pada akhirnya, kita selalu kembali kepada diri kita sendiri. 
Tidak ada rumah yang lebih setia daripada jiwa kita sendiri – tempat yang tak akan pernah punah, sirna, dan musnah. Dan karena itu, jangan pernah mencintai seseorang melebihi dirimu sendiri. Sebab ketika dunia berubah arah, dirimu lah yang tetap menjadi pelabuhan paling setia. 

Tadi sore aku mendapat pengingat kecil dari semesta – atau mungkin, teguran lembut dari Allah SWT. 
Aku berjalan menuju dapur. Lantai terasa biasa saja, tak licin, tak mencurigakan. Tapi nyatanya, langkahku terpeleset saat aku sedang membawa gelas. Detiknya cepat, sampai kakiku masuk ke dalam kolong lemari? seperti rak piring tak terlalu tinggi tapi berat,  namun rasanya seperti waktu berhenti sejenak.

Kepalaku hampir menghantam keramik yang keras dan tajam. Gelas yang kubawa hampir saja pecah. Tapi entah bagaimana, satu tanganku mampu menopang tubuhku dengan sempurna. Dan gelas itu tetap utuh, kalaulah dilindungi oleh sesuatu yang tak terlihat. 

Di titik itu aku sadar: 
Dalam hidup, kita sering jatuh di saat kita merasa semuanya aman-aman saja. Kita terpeleset justru ketika kita merasa lantainya tidak licin. Kita dihantam masalah ketika kita merasa hidup sedang baik-baik saja. 

Tapi seperti tanganku yang tiba-tiba kuat menopang tubuhku, begitu pula Allah selalu memberikan kekuatan pada saat-saat yang paling kita butuhkan. Bahkan ketika kita merasa tidak siap, tidak mampu, atau sendirian. 

Kadang tragedi kecil mengajarkan hal besar: 
Bahwa dalam perjalanan hidup, kita bisa tergelincir tanpa peringatan. 
Bahwa tidak semua yang kita genggam akan pecah meski kenyataannya rapuh. 
Bahwa diri kita – tubuh, hati, jiwa – punya kekuatan yang tak selalu kita sadari. 

Dan bahwa perlindungannya-Nya selalu ada, bahkan ketika kita tidak meminta.

Dari kejadian sederhana itu, aku belajar lagi tentang rumah paling aman; 
Diriku sendiri, yang dijaga oleh Allah, yang diberi kekuatan-kekuatan kecil tapi berarti. 
Dan karena itu, aku harus mencintai diriku seperti aku mencintai hidupku: 
Sepenuh hati, tanpa ragu, tanpa lupa. 

Mencintai seseorang itu kadang hanya sementara, kita merasa mendapatkan orang yang tepat, yang lebih baik, tapi bisa juga kembali di tinggalkan. 

Dulu aku kalau misalkan ditinggalkan oleh seseorang yang aku benar-benar sayangi 
Aku akan terus berlarut-larut, nangis berhari-hari, tapi setelah peristiwa-peristiwa yang menimpaku diriku selalu mengingat menyayangi diri sendiri itu sangat-sangat penting, karena dunia bisa membuatmu terpeleset kapan saja, tapi di rumah selalu jadi yang pertama menahan jatuhmu. 

Kamu sedang berada di posisi yang sama denganku? 

Yuk! Aku punya Ruang untuk dirimu, Safe Space and Open Talks 

Kunjungi Instagram: @speakminded.id 
Panggil saja Mindeeee pasti dia bakal balas pesan mu
Kamu disana boleh sharing about your story, your experience. Anything 
Or kamu butuh bantuan? Disana bebas bertanya kok bahkan kamu nanti dikasih tipsss Gratissss!

🌷Story and experience sharing
🌷Creative insights and tips
🌷Discussion space
🌷Education and awareness








Comments

Popular posts from this blog

🌸 Even the shyest voice can inspire others — if it dares to speak.

🧩 Jurnal Reflektif : Kenapa Orang Cerdas Bisa Salah Ucap ?

@alan.ndrsaa