Aku pernah down, Sekarang aku Tumbuh✨

🌙 Dari Gelap Menuju Terang: Perjalanan Menemukan Diriku Kembali

Aku pernah berada di titik di mana semuanya terasa berat.
Bukan cuma soal lelah, tapi lebih dari itu — soal luka batin yang nggak kelihatan.
Aku pernah punya penyakit mental yang cukup parah, sampai rasanya nggak ada lagi semangat buat ngelanjutin hidup kayak orang lain.


Bahkan dulu, aku sempat dibully.
Bukan cuma sekali, tapi berulang kali — di tempat yang seharusnya jadi ruang aman, yaitu sekolah.
Aku pindah dari satu sekolah ke sekolah lain, nyari tempat di mana aku bisa tenang, bisa diterima. Tapi rasa nggak nyaman itu tetap ngikut.
Bahkan dalam pertemanan pun, aku sering ngerasa “nggak cukup baik”. Kadang orang berpikir Ah ini mah anaknya aja Yang baperan, Ah ini mah anaknya aja yang gak bisa bergaul. Padahal jika memang kenyataannya seperti itu kenapa kita, atau anak-anak yang sulit mempunyai teman itu tidak dirangkul malah dikucilkan, yang pada ujungnya menuju ke perundungan. Kadang kita yang beda pemikiran saja bisa jadi pemicu adanya perundungan. Makanya bagi diriku menemukan lingkungan yang bisa menerima dan menghargai ku itu sangat sulit, makanya kenapa di Indonesia ini masih banyak kasus-kasus pembullyan bahkan cukup tragis. 

Dan..
Sampai akhirnya aku mutusin untuk berhenti sejenak — bukan karena menyerah, tapi karena aku butuh waktu buat sembuh.


kenalin itu Abangku namanya Rafif Dia adalah orang yang nemenin aku di saat aku lagi rapuh-rapuhnya, dulu kami suka berantem bahkan Dulu waktu aku masih kecil dia yang selalu bikin aku nangis, tapi di saat adiknya sedang terpuruk rapuh dia orang yang berada di Garda terdepan. Pada saat aku punya gangguan mental Abangku yang selalu menemani aku makan, ngajak ngobrol, pokoknya dia yang selalu melindungiku di saat itu, padahal dia juga punya mimpi, dia butuh waktu untuk dirinya sendiri. Tapi dengan ikhlasnya dia meluangkan seluruh waktunya menemaniku setiap hari. Nggak ada orang yang bisa menggantikan peran saudara kandung. Baik buruknya mereka, mereka akan selalu menjadi rumah untuk kita pulang, terima kasih Abangku 🫶🏼.

ini foto aku sama Abangku yang ke-empat waktu masih kecil, ini zaman-zamannya kita suka ribut guys

tidak hanya Abangku ini merupakan tiga kakakku yang lain yang sangat berpengaruh bagi hidupku terima kasih semuanya aku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata karena bantuan dari kalian itu penuh makna.🩷🩷🩷🩷🩷
Aku nggak punya foto Abangku yang pertama hehe.

Di pertengahan tahun 2024
Aku benar-benar menarik diri.
Nggak pegang HP, nggak buka media sosial, dan hampir satu tahun penuh aku bener-bener hilang dari dunia luar.
Buat sebagian orang mungkin itu terlihat aneh, tapi buatku, itu masa paling penting: masa penyembuhan.
Masa di mana aku belajar mengenal diriku lagi, tanpa suara orang lain, tanpa pembanding, tanpa tekanan.

Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya aku memutuskan untuk kembali bersekolah tetapi di sekolahan yang berbeda aku pindah kota. Aku cukup nyaman dengan lingkungannya bahkan aku di sana cukup aktif, sampai aku ikut serta dalam kegiatan pemilihan ketua OSIS periode 2024-2025 namun pada saat itu belum rezekinya aku aku belum bisa keterima, tapi itu bukan jadi hal yang bikin aku berhenti aku di situ ikut sebuah ajang pencarian bakat masih wilayah sekolah, namun di situ juga gagal aku. Dan entah mengapa setelah banyaknya kejadian-kejadian yang membuat aku pada akhirnya memutuskan untuk tidak lagi bersekolah di sana. Padahal aku di situ menemukan teman yang sangat baik lingkungan yang cukup nyaman. Tapi pada saat itu aku kembali lagi jatuh.

Dan akhirnya, pelan-pelan aku mulai bangkit.
Aku lanjut sekolah lewat Paket C, jalur yang justru jadi titik balikku.
Terima kasih buat PKBM Karya Muda, yang udah nerima aku tanpa menghakimi, dan selalu support aku buat terus berkembang.
Di situ aku ngerasa: aku nggak sendirian. Aku berhak punya kesempatan kedua.

Sekarang aku mulai aktif lagi.
Aku bikin podcast monolog, tempat aku bisa cerita dan berbagi pengalaman — bukan buat nyari perhatian, tapi buat ngasih harapan.
Kalau dulu aku bisa sembuh, kenapa kamu nggak bisa? 🌿
Aku juga ada bikin beberapa lagu yang memang belum sempurna dan belum aku publish ke platform music. Aku juga sempat memberanikan diri untuk ikut ajang pencarian bakat yang cukup bergengsi, namun aku gagal tapi itu tak jadi acuan aku untuk menyerah. 

💬 Pesan buat kamu yang lagi berjuang

Kalau kamu merasa ada yang salah dengan pikiran atau perasaanmu, tolong jangan takut buat minta bantuan.
Pergi ke psikolog, psikiater, atau tenaga profesional itu nggak berarti kamu gila.
Justru itu bentuk kepedulian dan kasih sayang terhadap dirimu sendiri.
Sama kayak kita ke dokter saat sakit fisik — kesehatan mental juga butuh dirawat.

Aku tahu rasanya takut, malu, atau merasa sendirian.
Tapi percayalah, langkah kecil buat nyari pertolongan itu bisa jadi awal dari kehidupan yang baru.
Kita semua berhak untuk sembuh. Kita semua berhak bahagia lagi. 🌻

✨ Dan ingat:
Setiap rintangan, setiap jatuh, setiap luka — semuanya punya makna.
Kamu bukan gagal, kamu cuma sedang tumbuh.
Kadang prosesnya memang menyakitkan, tapi di balik itu ada versi dirimu yang lebih kuat sedang terbentuk.

Comments

Popular posts from this blog

🌸 Even the shyest voice can inspire others — if it dares to speak.

🧩 Jurnal Reflektif : Kenapa Orang Cerdas Bisa Salah Ucap ?

@alan.ndrsaa